Beberapa tahun terakhir ini, hidup saya terasa seperti sedang berlari maraton tanpa garis finish.
Perjalanan ini dimulai ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Blibli. Berawal dari seorang anak magang yang penuh rasa ingin tahu, hingga akhirnya alhamdulillah dipercaya untuk bergabung sebagai karyawan tetap di posisi UX Engineer.
Hari-hari saya setelah itu dipenuhi rutinitas yang hampir selalu sama: coding, meeting, dan debugging hingga larut malam demi mengejar deadline yang rasanya tidak pernah benar-benar selesai.
Tapi anehnya, saya menikmati semua itu.
Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pixel yang saya susun di layar digunakan oleh jutaan orang. Ada rasa senang ketika sebuah fitur akhirnya live setelah melewati berbagai revisi dan proses yang panjang. Tanpa sadar, rutinitas itu terus berulang dan perlahan berubah menjadi zona nyaman saya selama bertahun-tahun.
Namun, di balik semua keriuhan produk yang saya bangun, ada satu hal yang justru terus terbengkalai: rumah saya sendiri - portofolio.
Jebakan Rutinitas dan Ego Sang Perfeksionis
Keinginan saya untuk membuat portofolio sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, setiap kali ingin memulainya, saya selalu punya seribu alasan untuk menundanya. Entah karena lelah setelah bekerja, atau jujur karena lagi malas saja wkwk. Pikiran saya saat itu selalu sama:
“Nanti aja lah pas weekend atau sehabis sprint.”
Tapi begitu weekend tiba atau ada waktu luang, saya malah berpikir:
“Masa iya di kantor sudah seminggu penuh ngoding, sekarang weekend pun masih harus ngoding?”
Akhirnya, saya lebih memilih untuk beristirahat, dan niat untuk membangun portofolio itu pun kembali tertunda.
Tapi ternyata, masalahnya bukan cuma rasa lelah dan malas. Musuh terbesarnya justru datang dari dalam diri saya sendiri, yaitu sifat perfeksionis yang berlebihan.
Setiap kali membuka code editor untuk memulai, saya selalu terjebak dalam keinginan agar semuanya langsung sempurna sejak awal. Kepala saya mendadak penuh dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya:
“Duh, desainnya harus kayak gimana ya biar kelihatan keren?”
“Tech stack-nya pakai apa aja ya yang bagus?”
“Bikin yang simple static aja atau sekalian yang dinamis pakai database ya?”
“Isinya apa aja biar kelihatan profesional?”
Karena standar yang saya buat sendiri terlalu tinggi, proyek portofolio ini tidak pernah benar-benar selesai. Proyek ini selalu berakhir jadi draf di laptop, atau kalaupun dipaksakan ada, hasilnya malah terlihat setengah matang dan jauh dari kata layak.
Peringatan Keras Bernama Layoff
Sampai akhirnya, badai itu datang. Kabar layoff bukan lagi sekadar berita di LinkedIn, tapi menjadi realitas yang harus saya hadapi sendiri. Dalam sekejap, rutinitas yang selama bertahun-tahun menyita waktu saya itu hilang begitu saja.
Di sinilah momen tamparan keras itu benar-benar terasa nyata.
Ketika saya mulai membuka situs pencari kerja dan mencoba melamar posisi baru, saya baru sadar bahwa saya tidak punya banyak hal untuk ditunjukkan. Sebagian besar hasil pekerjaan saya selama bertahun-tahun tersimpan di sistem internal perusahaan yang sudah tidak bisa lagi saya akses.
Kenyataan itu perlahan membuat rasa percaya diri saya turun, karena saya tidak punya cukup bukti nyata untuk menunjukkan apa saja yang pernah saya kerjakan selama ini.
Memulai dari Reruntuhan
Dari situ saya menyadari pentingnya memiliki portofolio untuk mendokumentasikan perjalanan profesional saya. Akhirnya, saya mencoba membangun semuanya lagi, pelan-pelan.
Saya mulai menghubungi beberapa rekan kerja lama, mencari ulang file dan dokumentasi yang masih tersisa, membuka folder-folder lama di laptop, sampai mencoba mengingat kembali proyek-proyek yang pernah saya kerjakan sebelumnya.
Di proses itu saya sadar bahwa membangun portofolio ternyata bukan sekadar soal desain bagus atau teknologi yang dipakai. Lebih dari itu, membangun portofolio adalah tentang berani jujur pada proses, menghargai setiap rekam jejak, dan yang terpenting: berani untuk memulainya terlebih dahulu, sekecil apa pun itu.
Saya akhirnya memutuskan untuk membuang jauh-jauh ego perfeksionis yang selama ini membelenggu. Saya sadar, portofolio yang paling bagus bukanlah portofolio dengan animasi paling megah atau tech stack paling rumit, melainkan portofolio yang benar-benar selesai dan bisa diakses.
Dari situ saya mulai memahami bahwa yang saya butuhkan bukan motivasi besar, melainkan cara berpikir yang lebih realistis agar proyek ini benar-benar berjalan.
Done is Better Than Perfect
Prinsip itulah yang akhirnya menyelamatkan saya dari reruntuhan. Saya mulai menyusun strategi baru yang lebih realistis.
- Iterasi, Bukan Langsung Sempurna Persis seperti membangun produk di dunia kerja, saya memperlakukan portofolio ini sebagai sebuah MVP (Minimum Viable Product). Awalnya target saya sangat sederhana: halaman beranda yang menampilkan informasi saya dengan jelas dan beberapa studi kasus seadanya. Dari fondasi kecil itu, saya terus melakukan iterasi hingga “rumah” ini berkembang dengan berbagai fitur di dalamnya.
- Fokus pada Value, Bukan Cuma Visual Daripada pusing memikirkan tren desain yang berubah setiap minggu, saya lebih fokus pada bagaimana cara menceritakan peran saya sebagai seorang UX Engineer. Bagaimana saya menjembatani desain dan kode, bagaimana saya ikut andil dalam mengembangkan produk, dan masalah apa yang berhasil saya selesaikan.
- Melawan Rasa Malas dengan Konsistensi Kecil Saya tidak lagi menunggu weekend tiba untuk "maraton ngoding". Sekarang saya memilih untuk mencicilnya pelan-pelan di sela-sela waktu luang setelah mencari lowongan kerja, dengan durasi yang tidak terlalu lama di setiap sesinya. Biasanya dipakai untuk hal-hal kecil seperti membuat satu komponen, menulis satu paragraf copywriting, atau sekadar merapikan struktur folder.
- Mengembangkan Fitur secara Bertahap Seiring waktu, “rumah kecil” ini berkembang sedikit demi sedikit. Saya mulai menambahkan berbagai fitur untuk memperkaya fungsionalitasnya, seperti halaman roadmap untuk menampung perspektif dan ide, serta halaman lounge sebagai ruang diskusi dan memperluas relasi, ditambah fitur interaktif lainnya. Perlahan, portofolio ini tidak lagi hanya sekadar showcase project, tetapi juga ruang yang lebih hidup dan interaktif.
Rumah Itu Akhirnya Berdiri
Setelah melewati proses bongkar pasang, melawan keraguan diri, dan mengumpulkan serpihan dokumentasi yang tersisa, alhamdulillah, rumah digital saya itu akhirnya selesai dan bisa "ditempati".
Melihat portofolio tersebut akhirnya mengudara (live) memberikan rasa lega yang luar biasa. Ada rasa percaya diri yang perlahan tumbuh kembali. Rumah ini mungkin belum sepenuhnya sempurna, masih banyak sudut yang perlu dirapikan dan ditambah hiasan di sana-sini. Namun, rumah ini adalah bukti nyata bahwa saya tidak menyerah pada keadaan.
Pengalaman pahit dari badai layoff kemarin memberikan saya sebuah pelajaran berharga yang akan selalu saya ingat:
Sebagai seorang engineer, kita sering kali terlalu sibuk membangun dan mempercantik gedung milik orang lain, hingga lupa bahwa kita juga butuh tempat berteduh untuk diri kita sendiri.
Jangan tunggu badai datang untuk mulai membangun rumahmu. Karena ketika badai itu datang, rumah itulah satu-satunya tempat untuk kembali berdiri.
